Horizontal Navigation

Monday, October 8, 2012

Sejarah Pura Dalem Balingkang

Pura Dalem Balingkang berdiri megah pada lahan seluas 15 hektar di wilayah Desa Pakraman Pinggan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli. Untuk menuju Pura Dalem Balingkang, harus turun dari Pura Pucak Penulisan menuju Banjar Paketan di Desa Pakraman Sukawana. Dari Banjar Paketan menuruni jalan berliku dengan panorama indah deretan gunung Batur, gunung Abang, dan gunung Agung menuju Pura Dalem Balingkang. Pura Pucak Penulisan merupakan hulunya Pura Dalem Balingkang, karena Pura Dalem Balingkang tepat menghadap ke Pura Pucak Penulisan. Pura Dalem Balingkang seolah-olah dikelilingi oleh tembok yang terdiri dari bubungan berupa perbukitan yang melingkari kawah gunung Batur terletak di sebelah timur, barat, utara dan selatan. Di samping itu juga dikelilingi oleh sungai Melilit yang merupakan sumber mata air bagi masyarakat sekitarnya. Pura Dalem Balingkang terletak di sebelah barat kurang lebih 2,5 kilometer dari pemukiaman atau perumahan masyarakat Desa Pakraman Pinggan. Sejarah Pura Dalem Balingkang akan dibahas dari beberapa sudut pandang, diantaranya : 1) Berdasarkan Purana Pura Dalem Balingkang tahun 2009, 2) Berdasarkan mitos masyarakat di sekitar Pura Dalem Balingkang, dan 3) Berdasarkan Kekawin Barong Landung.

Purana Pura Dalem Balingkang (2009)
Purana Pura Dalem Balingkang menyebutkan bahwa maharaja Sri Haji Jayapangus beristana di gunung Panarajon. Pada masa pemerintahannya maharaja Sri Haji Jayapangus didampingi oleh permaisuri beliau yang bergelar Sri Parameswari Induja Ketana. Beliau Sri Parameswari Induja Ketana disebut sebagai putri utama yang sangat bijak. Beliau berasal dari danau Batur yang merupakan keturunan Bali Mula atau Bali asli. Pada masa pemerintahan waktu itu yang menjabat sebagai Senapati Kuturan adalah Mpu Nirjamna. Beliau mempunyai dua orang penasehat yang bergelar Mpu Siwa Gandhu dan Mpu Lim. Mpu Lim mempunyai dayang berwajah cantik bernama Kang Cing We, putri dari I Subandar yang memperistri Jangir yaitu wanita Bali.
Setelah lama Kang Cing We menjadi dayang Mpu Lim, ada keinginan beliau Sri Haji Jayapangus untuk memperistri Kang Cing We sekaligus diupacarai. Oleh karena demikian keinginan beliau, segaralah beliau Mpu Siwa Gandhu menghadap dan memberikan saran kepada baginda raja. Bahwa kehendak baginda raja memperistri putri I Subandar yaitu Kang Cing We tidak tepat, karena baginda raja beragama Hindu sedangkan Kang Cing We beragama Buddha. Namum, nasehat Sang Dwija tidak diindahkan oleh baginda raja. Marahlah baginda raja kepada Bhagawantanya, oleh karena demikian Mpu Siwa Gandu tidak lagi menjadi penasehat di kerajaan Panarajon. Segeralah baginda melangsungkan upacara pernikahan, yang disaksikan oleh para rohaniawan dari agama Hindu maupun agama Buddha, para pejabat seperti sang pamegat, para pejabat desa, dan para karaman. Setelah beberapa lama upacara pernikahan berlalu, I Subandar mempersembahkan dua keping uang kepeng atau pis bolong untuk bekal putrinya mengabdi kepada baginda raja. Selanjutnya dikemudian hari agar baginda raja menganugrahkan dua keping uang kepeng atau pis bolong tersebut kepada rakyat beliau yang ada di seluruh pulau Bali. Sebagai sarana  upacara yajña atau kurban sampai dikemudian hari.
Bedasarkan kesepakatan Sri Haji Jayapangus dengan Kang Cing We teersebut, marahlah Mpu Siwa Gandhu terhadap sikap baginda raja. Beliau Mpu Śiwa Gandhu melaksanakan tapa brata memohon anugerah kepada para dewa agar terjadi angin ribut dan hujan lebat selama satu bulan tujuh hari. Karena memang benar-benar khusuk Mpu Siwa Gandhu melaksanakan tapa brata, maka benarlah terjadi angin puting beliung dan hujan lebat. Musnahlah keraton Sri Haji Jayapangus di Panarajon. Beliau Sri Haji Jayapangus diiringi oleh sisa-sisa abdinya mengungsi ke tengah hutan, yakni ke wilayah Desa Jong Les. Di sana beliau dengan cepat merabas semak belukar dan hutan lebat, juga dilengkapi dengan upacara dan upakara yajña.
Bangunan suci kerajaan baginda raja sekarang bemama Pura Dalem Balingkang. Kata Dalem” diambil dari kata tempat itu yang disebut Kuta Dalem Jong Les. Adapun kata Balingkang diambil dari kata Bali”, yaitu baginda raja  sebagai menguasa jagat Bali Dwipa. Kata Kang” sebenarnya diambil dari nama istri beliau yang bernama Kang Cing We. Ada lagi disebutkan, pada saat baginda raja mengungsi dari Panarajon ke tengah hutan disebut Kuta Dalem. Di sana beliau berhasil memusatkan pikiran beliau sampai ke pikiran paling dalam atau daleming cita memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Beliau berhasil membangun keraton dan tempat suci di Kuta Dalem. Setelah beliau memerintah di Balingkang kembali sejahteralah seluruh kerajaan Bali Dwipa. Lebih-lebih setelah didampingi oleh kedua permaisuri beliau yang selalu duduk di kiri-kanan singasana beliau. Adapun yang mendampingi atau mengabih di kanan bergelar Sri Prameswari Induja ketana, dan di kiri bergelar Sri Mahadewi Sasangkaja Cihna atau Kang Cing We. Serta para pejabat kerajaan  dan para abdi atau rakyat beliau semuanya.

Berdasarkan Mitos Masyarakat di Sekitar Pura Dalem Balingkang
Berdasarkan mitos yang berkembang pada masyarakat di sekitar Pura Dalem Balingkang. Diceritakan bahwa pada jaman dahulu ada seorang raja yang bernama Sri Jayapangus. Beliau beristana di bukit Panarajon, serta keraton beliau di Kuta Dalem. Mulanya saat beliau memerintah di Panarajon beliau mempunyai seorang permaisuri bernama Dewi Mandul atau seorang permaisuri yang tidak bisa melahirkan. Sri Jayapangus berkeinginan mempunyai seorang putra untuk meneruskan tahta atau kedudukannya di Panarajon. Namun, keinginan beliau tidak terkabulkan berhubung permaisuri tidak dapat melahirkan seorang putra. Suatu ketika beliau berjalan-jalan di Pasar Kuta Dalem, beliau bertemu dengan seorang wanita yang berwajah cantik yang merupakan putri saudagar dari Cina. Karena melihat kecantikan putri tersebut, maka ada keinginan beliau untuk mengawininya secara diam-diam. Tanpa melalui upacara yang disaksikan oleh para pejabat kerajaan, maupun tanpa sepengetahuan permaisuri beliau yaitu Dewi Mandul. Perkawinan secara diam-diam Sri Jayapangus dengan putri Cina tersebut diketahui oleh Bhatara Śiwa. Akhirnya Bhatara Śiwa mengusir Sri Jayapangus dari Panarajon karena kesalahan beliau melakukan perkawinan tanpa upacara yajña, yang tidak sepatutnya dilakukan oleh seorang raja.
Sri Jayapangus yang diiringi oleh kedua permaisurinya menuruni bukit Panarajon, menelusuri hutan menuju arah timur laut pada saat hujan deras dan angin puting beliung. Beliau tanpa mengenal lelah terus melanjutkan perjalanan menuruni perbukitan, dan akhirnya sampai disuatu tempat yang bernama Gunung Lebih. Di sana beliau beristirahat dan melakukan pemujaan terhadap para dewa, memohon petunjuk serta memohon perlindungan-Nya. Ketika melakukan pemujaan beliau mendapat sabda atau pawisik dari para dewa agar terus melanjutkan perjalanan sampai hujan dan angin reda. Apabila hujan dan angin mulai reda, maka di sanalah beliau diperintahkan untuk memasang suatu tanda dan membangun sebuah keraton. Pada saat beliau turun dari bukit Panarajon dikenal dengan istilah Kuta Dalem Jong Les.
Mengingat sabda atau pawisik dari para dewa tersebut, beliau terus melanjutkan perjalanan menuruni bukit Panarajon yang diiringi oleh kedua permaisurinya. Akhirnya beliau sampai disuatu tempat yang bernama Dharma Anyar, yaitu tempat pertapaan bagi orang suci baik Mpu, Maha Rsi, atau yang lainnya. Setibanya beliau di Dharma Anyar hujan dan angin mulai reda,  akhirnya di Dharma Anyar beliau membangun keraton yang dikenal dengan nama Balingkang. Di sana beliau kembali menata kerajaan seperti dahulu di Panarajon. Serta didampingi oleh para Senapati Kuturan, pejabat kerajaan, dan kedua permaisurinya.
Pernikahan Sri Jayapangus dengan putri Cina yang disebut-sebut Dewi Danuh, melahirkan seorang putra yang bernama Mayadanawa. Mayadanawa dikenal dengan gelar Dalem Bedahulu yang beristana di Pejeng. Beliau berhasil dikalahkan oleh Gajah Mada dari kerajaan Majapahit. Lama-kelamaan bekas keraton Sri Jayapangus di Balingkang dijadikan tempat pemujaan atau tempat suci untuk memuja Sri Jayapangus dan kedua permaisurinya yang telah disucikan melalui upacara yajña. Hingga sampai sekarang dikenal dengan nama Pura Dalem Balingkang.

Berdasarkan Kekawin (geguritan) Barong Landung
Keberadaan Pura Dalem Balingkang juga termuat dalam Geguritan Barong Landung yang ditulis oleh I Nyoman Suprapta (dalam tesis Juta Ningrat, 2010), sebagai berikut :
Diceritakan seorang raja yang tersohor, bijaksana dan banyak menulis prasasti-prasasti yang memuat tentang pelaksanaan upacara keagamaan, beliau bernama Sri Haji Jayapangus tempat kerajaan beliau di Bukit Panarajon. Dalam pemerintahanya didampingi oleh seorang permaisuri yang bernama Dewi Danuh putri dari keturunan Bali Mula. Kelama-kelamaan datanglah seorang pedagang dari negeri Cina yang bernama Dewi Ayu Subandar bersama seorang putri cantik berkulit putih dan bermata sipit yang dikenal dengan nama Kang Cing We. Kang Cing We kemudian diangkat menjadi pelayan Mpu Lim. Karena Kang Cing We sering berada di keraton dan memiliki wajah yang sangat cantik, terpikatlah hati sang raja untuk memperistrinya. Dengan demikian sang raja mengumumkan kepada penggawa kerajaan dan rakyatnya untuk mempersiapkan upacara perkawinan. Mendengar kabar sedemikian rupa, maka menghadaplah salah satu Bhagawanta raja yakni Mpu Siwa Gandu. Sang Bhagawanta raja menyarankan sang raja untuk tidak mengawini Kang Cing We, karena raja tidak boleh memiliki dua permaisuri selain itu pula  Kang Cing We beragama Buddha sedangkan Sri Haji Jayapangus beragama Śiwa atau Hindu. Sang raja tidak mendengarkan nasehat sang Bhagawanta raja dan tetap besikukuh untuk mengawini Kang Cing We. Sehingga terselenggaralah upacara perkawinan tersebut. Karena Sang Bhagawanta merasa sarannya tidak diindahkan oleh Jayapangus, maka marahlah Sang Bhagawanta dan melaksanakan tapa brata menciptakan bencana, hujan lebat, gempa dan bencana lainya sehingga hancurlah kerajaan beliau. Dengan kehancuran kerajaan beliau, maka dipindahkanlah kerajaannya ke Jong Les atau Dalem Balingkang. Perkawinannya dengan Dewi Danuh memiliki seorang  putra yang bernama Mayadenawa dan diangkat menjadi raja di Bedahulu. Sedangkan perkawinanya dengan Kang Cing We tidak mempunyai keturunan. Karena lama tidak mempunyai keturunan untuk melanjutkan pemerintahanya di Dalem Balingkang. Sedangkan Dewi Danuh sudah moksa, maka sang raja meminta ijin kepada Kang Cing untuk bertapa di puncak gunung Batur. Seraya memohon anugrah agar dikaruniai seorang putra. Sesampainya di puncak gunung bertemulah dengan seorang putri yang sangat cantik, sehingga jatuh cintalah Sang raja terhadap waita tersebut. Lama sang raja tidak mengirim kabar ke keraton Dalem Balingkang maka disusullah oleh Kang Cing We ketempat pertapaan. Sesampainya Kang Cing We ditempat pertapaan dilihat sang raja sedang berkasih-kasihan dengan seorang  wanita cantik. Melihat kejadian seperti itu maka marahlah Kang Cing We dan memaki-maki wanita tersebut yang tiada lain adalah penjelmaan dari Dewi Danuh untuk menggoda tapanya sang raja. Karena merasa dirinya dimaki-maki oleh seorang manusia atau Kang Cing We. Maka marahlah Sang Dewi tersebut secepat kilat keluar api dari dahi-Nya dan api tersebut mengejar Kang Cing We dan membakarnya. Sehingga wafatlah Kang Cing We. Dengan kematian Kang Cing We sang raja pun menjadi sedih dan berduka sehingga disudahilah tapanya. Karena sang raja sebelumnya mengaku belum mempuyai istri kepada Sang Dewi, maka Sang Dewi memutuskan sang raja mendapatkan hukuman yang setimpal, dan akhirnya sang raja bernasib sama. Atas sepeninggal beliau berdua atau sang raja dan sang permaisuri dari kerajan, maka rakyatnya pun menyusul ke tempat pertapaan, dan menemukan junjunganya sudah wafat. Rakyat Dalem Balingkang menjadi sedih dan memohon ke pada Sang Dewi untuk menghidupkan kembali kedua junjunganya. Melihat ketulusan hati permohonan rakyat Dalem Balingkang tersebut maka Sang Dewi mengabulkan permohonya tetapi dalam bentuk lingga berupa Barong Landung Lanang-Istri. Kemudian Sang Dewi memerintahkan rakyat Dalem Balingkang untuk membawa kedua lingga tersebut ke Dalem Balingkang dan diberikan anugrah bahwa kedua lingga tersebut bisa memberikan perlindungan dari alam niskala atau memerintah dari alam niskala. Sesampainya di Dalem Balingkang dibuatkanlah upacara agama.

Maharaja Sri Haji Jayapangus dengan kedua permaisurinya disebutkan juga dalam prasasti Cempaga A Ib.1-2, yaitu sebagai berikut :
Ing çaka 1103 çrawanamāsa i thi nāwami çuklapakā, ma, pa, wāraning wayangwayang, irikā diwaça ājnā pāduka çri mahārāja.
Ja Hāji Jayapangus, Hārkajalañcana, sahā rājapātnidwaya pāduka Bhtāri Çri Parameswari Indujakotana, Pāduka Çri Mahādewi Çaçangkajacihnā.
Terjemahan :
Berangka tahun 1103 Çaka dan menyebut nama raja Paduka Sri Maharaja Haji Jayapangus Harkajalancana dan kedua orang permaisurinya masing-masing bernama Paduka Bhatari Sri Prameswari Indujaketana dan Paduka Sri Mahadewi Sasangkajacihna (Atmodjo, 1975).

Cerita di atas menggambarkan bahwa pada masa pemerintahan Sri Haji Jayapangus, sudah terjadi hubungan yang erat antara Śiwa dan Buddha . Bahkan kedua tokoh  agama dimaksud sudah dijadikan penasehat kerajaan, yaitu Mpu Siwa Gandhu tokoh ajaran Śiwa dan Mpu Lim tokoh ajaran Buddha. Hubungan agama juga terlihat pada perkawinan Sri Haji Jayapangus dengan Kang Cing We. Pada akhirnya terbentuk dua unsur yang berbeda yaitu unsur purusa dan pradana atau Śiwa-Buddha.
Mitologi-mitologi yang berkembang dimasyarakat dapat memperkuat sistem kepercayaan bagi umat Hindu-Buddha . Berdasarkan pada peristiwa atau kejadian yang pernah terjadi pada jaman dahulu. Seperti halnya seorang raja yang mampu memberikan perlindungan pada rakyatnya. Sehingga setelah beliau wafat disucikan berdasarkan upacara yajña. Serta dipuja atau disungsung oleh pengikutnya, kemudian beliau disebut bhatara. Pura Dalem Balingkang adalah tempat bersthananya Ida Bhatara Dalem Balingkang atau Sri Haji Jayapagus. Beserta leluhur raja-raja di Panarajon yang pernah berkuasa di Bali. Setelah disucikan dengan upacara yajña, maka Sri Haji Jayapangus disetarakan dengan Dewa Surya atau Dewa Śiwa oleh para pemuja-Nya.



Sumber (buku/penelitian) :
  1. Atmojo, Sukarto K., 1975.  Prasasti Cempaga. Gianyar : Lembaga Purbakala dan Peniggalan Nasional. 
  2. Darma, I Wayan, 2009. Pura Dalem Balingkang di Desa Pinggan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli (Kajian tentang Sejarah, Struktur, dan Fungsi Pura). Skripsi. Singaraja : Undiksa. 
  3. Kadi, I Nengah. 2013. Eksistensi Palinggih Ratu Ayu Mas Subandar di Pura Dalem Balingkang Desa Pakraman Pinggan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli (Perspektif Teologi Hindu). Skripsi. Denpasar : IHDN.
  4. Ningrat, I Nengah Asrama Juta, 2010. Pemujaan Bhatara Dalem Balingkang di Desa Pinggan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli (Perspektif Multikulturalisme). Tesis. Denpasar : IHDN. 
  5. Reuter, Thomas A., 2005. Budaya dan Masyarakat di Pegunungan Bali. Terjemahan : A. Rahman Zainuddin. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia. 
  6. Tim Penyusun. 2006. Mengenal Pura Sad Kahyangan dan Kahyangan Jagat. Denpasar : Pustaka Bali Post. 
  7. Tim Penyusun. 2009. Purana Pura Dalem Balingkang. Denpasar : Dinas Kebudayaan Provinsi Bali.

Informan :
  1. Jro Kubayan Tongkok, 103 tahun (Jro Kubayan Kiwa Desa Pakraman Sukawana) 
  2. I Guru Wadri, 100 tahun (Pangelingsir Desa Pakraman Pinggan) 
  3. I Nengah Dauh , 77 tahun (Prajuru Desa Pakraman Les-Penuktukan)

2 comments:

  1. suksma antuk ulasannya.
    Dumogi meguna ring umat se-dharma

    ReplyDelete